| Burung cari lubang, atau lubang cari burung? |
|
|
|
|
Ok, marilah kita lanjutkan. Jika kita berkeliling
di daerah sentra walet , sering kita lihat, jumlah pintu masuk walet tidak sama.
Di wilayah Keling-Medan, banyak
ruko-ruko walet yang lubang masuknya berukuran sekitar 25 cm dengan panjang 2
meter. Gedung walet, yang dekat stasiun
kerata api (KA) di daerah Jawa, sebagian berpintu bulat. Seperti diketahui banyak bangunan stasiun KA
peninggalan Belanda, yang sudah tidak berfungsi lagi, sekarang banyak dihuni
walet dan seriti. Burung ini masuk ke dalam gedung melalui lubang bulat berdiameter sekitar 60
cm. Lubang bulat itu memang asli desain gedung stasiun tersebut, dengan tujuan
semula sebagai ventilasi udara. Jadi, gedung walet yang dekat dengan stasiun KA
meniru lubang bulat tersebut. Di daerah sentra walet di Jambi, terlihat sebuah
gedung walet dengan ukuran besar menjulang tinggi dengan lubang masuknya
berbentuk bulat.
Definisi pintu masuk, yaitu lubang/
pintu masuk bagi walet ke dalam sebuah gedung Menurut saya, bentuk pintu masuk walet
tak jadi masalah. Yang penting walet mudah masuk ke dalamnya. Namun mengapa orang
membuat pintu dengan ukuran dan bentuk yang berbeda? Tentu itu semua ada maksud
dan tujuan. Tetapi kadang, maksud dan tujuan
pemilik gedung, tidak sesuai dengan kemauan walet.
Apa tujuannya orang membikin 2
atau bahkan 4 buah lubang pintu masuk? 1) Agar walet menentukan sendiri pintu kesukaannya. Walet disuruh memilih mana pintu masuk yang paling dia suka. Pemilik gedung akan mengamati dalam 1 bulan. Ternyata walet memilih pintu yang menghadap ke selatan. Dari mana pemilik gedung tau ? Karena dia mengamati tiap hari, sebagian besar walet masuk ke gedung itu dari pintu yang menghadap ke selatan. Maka, lubang masuk selain ke selatan, secara pelan-pelan akan di tutup. 2). Pemilik gedung membuat 4 lubang pintu masuk, dengan maksud dan tujuan, agar banyak walet masuk dari segenap penjuru. Agar gedungnya cepat penuh burung walet. Jadi, pemilik akan tetap menggunakan 4 pintu yang menghadap ke segala penjuru .
3) Tapi
ada juga, pemilik gedung yang tak tau maksud dan tujuan. Bikin 4 pintu masuk ke segala penjuru, tapi cuma ikut-ikutan. Dia mengira gedung walet memang harus berpintu banyak,
agar walet yang masuk juga banyak.
Rumah monyet atau kotak sabun yang berpintu majemuk, atau pintu masuk walet lebih dari satu, memang akan nampak ramai walet. Jika pagi atau sore hari, gedung tersebut pasti akan ramai walet. Pintu majemuk akan membuat walet masuk-keluar gedung berulang-ulang. Fenomena ini memang akan menyedot perhatian walet yang lain. Apalagi jika cd panggilnya sangat bagus, pasti membuat daya tarik yang kuat bagi koloni walet untuk datang berduyun-duyun ke gedung tersebut.
Tapi, setelah di cek 1 bulan kemudian, hanya sedikit walet yang menginap di dalamnya. Itu terlihat dari tidak ada kotoran yang menumpuk di lantai. Namun, ketika dilihat di dinding rumah monyet….wow… kotoran banyak menempel di dinding secara merata. Walet masuk ke dalam rumah monyet, dan hanya berputar-putar di dalamnya. Walet buang kotoran pada dinding rumah monyet sambil terbang. Setelah 3 atau 4 kali berputar, walet keluar melalui pintu lain. Tak lama kemudian, walet akan masuk lagi, berputar lagi, keluar lagi….itu terjadi berulang-ulang.…
Walet masuk dari 1 pintu dan keluar lewat pintu lain. Pantaslah kalau gedung walet tampak ramai, tapi walet cuma masuk-keluar, masuk-keluar. Walet tidak konsentrasi untuk menukik ke bawah, walet tidak tertarik untuk turun melalui void, karena tergoda oleh adanya lubang lain, maka walet keluar lagi Saya menyebutnya, ini kasus : kebocoran. Walet sudah masuk, tapi keluar lagi. Biar tidak bocor, lubang yang lain harus ditutup.
Maka, wajar jika jumlah walet
yang menginap di gedung tersebut tidak sebanding dengan walet yang masuk gedung.
Kasus ini sering terjadi di berbagai daerah. Walet yang masuk gedung ada 100
ekor, tapi yang menginap hanya 5 ekor. Itu terjadi karena salah teknis. Memancing walet, sama dengan memancing ikan.
Jadi, dengan banyak lubang,
apakah justru tidak efektif? Jawabnya, iya, betul tidak efektif. Walet nampak
ramai saja di sekitar rumah moyet. Tapi cuma masuk-keluar melulu…hanya sedikit
yang turun lewat void..terbang-terbang ke dalam kamar… tapi tidak lama
kemudian..langsung keluar lagi…Proses walet menginap membutuhkan waktu yang
relative lama. Jadi kesimpulannya, itu sama saja dengan : menyuruh walet untuk
masuk gedung tapi juga langsung menyuruh keluar lagi.
Sekitar 1 bulan yang lalu, saya menerima telpon dari Pekanbaru. Namanya Saifullah. Anak muda ini menceritakan gedungnya sudah 9 tahun hanya terdapat 20 sarang walet. Ukuran gedung 3 lantai dengan luas 8 m X 20 m. Kondisi suhu dan kelembapan sudah sesuai habitat walet. Lantai dasar dan lantai 2 kegelapannya sudah memenuhi syarat. Lantai 3 dibikin sekat sehingga cahaya tidak banyak masuk ke ruangan. Tetapi kenapa tetap hanya 20 sarang walet saja selama ini? Dari nada bicaranya orang ini sudah 90 % putus harapan. Telepon sekitar 20 menit, kemudian Saifullah pesan CD green wave. Malam itu juga 3 file saya kirim melalui www. yousendit.com.
1 Minggu kemudian, Saifullah
telpon, harapannya mulai tumbuh kembali. Dengan Green wave 03. walet
berbondong-bondong masuk ke gedungnya. Saya ikut senang mendengar kabar itu.
Namun 2 minggu kemudian, Saifullah
menelpon lagi, “Pak Arief.. banyak walet yang datang dan masuk gedung, tapi kenapa
tak ada penambahan burung baru yang
menginap ? Kenapa ya…?” Kalimat terakhir terdengar nadanya memelas.
Karena waktu itu saya lagi sibuk, maka saya persilahkan untuk mengirim denah/ gambar gedung waletnya ke email saya. Malam hari saya buka email. Saya pelajari gedungnya. Ternyata, gedungnya menggunakan rumah monyet, dengan ukuran 4 m X 6 m, terletak di bagian belakang. Tinggi rumah monyet 3 meter. Lebar void 4 m x 3 m. Lubang masuk walet 4 buah menghadap ke segenap penjuru. Saya juga menganalisa sekat di lantai 3.
Apanya yang salah? Salah satunya adalah, lubang terlalu banyak. Menurut pengalaman saya, lubang masuk harus 1 saja. Tak boleh 2 apalagi 4. Itu dengan alasan, agar walet fokus di 1 lubang masuk saja, dan agar walet juga fokus untuk turun ke bawah. Lalu, lubang masuk mana yang harus digunakan? Saya menganjurkan lubang masuk harus menyongsong burung pulang di sore hari.
Saifullah segera menuruti advis yang saya berikan. Iapun melengkapi dengan kamera CCTV, yang diarahkan ke lubang void, dan 2 kamera lain dipasang di nesting room. Dengan kamera infra red itu, Saifulllah ingin melihat bukti atas advis saya. Jumat malam kemarin, Saifullah telepon. Nada bicaranya menyiratkan sedikit kegembiraan. Tumbuh lagi secercah harapan menuju keberhasilan. Rasa putus asa yang selama ini menyelimuti perasaannya, mulai sirna melihat manuver walet di void dan beberapa ekor walet sudah menempel di papan sirip. Ini artinya walet sudah turun, dan ada penambahan burung baru. Konsultasi by phone, Saifullah mendapat tambahan ilmu baru, yaitu ilmu memancing walet secara benar.
Kasus pintu majemuk memang banyak
terjadi. Dan pemilihan pintu yang tepat, kadang masih belum banyak yang
mengerti. Karena ke-tidak mengertian ini, advis siapun akan di turuti agar walet cepat & banyak masuk gedung. Maka,
yang terlihat adalah, pemilik gedung, semula telah memilih pintu menghadap ke utara,
tapi karena burung walet tak banyak masuk, maka ia menutup kembali pintu tersebut,
dan mengganti dengan pintu masuk ke arah barat. Jika walet sedikit masuk, maka
ia menuruti saran orang lain, untuk merubah posisi pintunya ke arah timur.
Akibatnya, pintu yang sudah dibuka lalu
ditutup lagi, lalu dibuka lagi, lalu ditutup
lagi. Dari jauh, nampak plester semen yang terbuka dan kelihatan bata
merah, bekas buka-tutup pintu di rumah monyet itu. Sebagian yang lain, dari 4
lubang yang sudah dibuat, dua lubang ditutup dengan papan triplek. Gedung walet
dan pemilik gedung sama-sama menderita.
|
| < Prev | Next > |
|---|
| Home |
| Profil Arief Budiman |
| Buku Walet |
| Suara Walet |
| Pemesanan |
| Kasus |
| Member |
| Gallery |
