| Sudah habis 90 jeti untuk beli cairan perangsang, hasilnya? |
|
|
|
|
Saya punya member di Sukabumi Jawa Barat. Namanya koh Cang Ho. Saya memanggil dengan nama Indonesia, Pak Ganda. Orangnya masih energik meski usianya sudah kepala tujuh. Kebiasaannya mengkonsumsi sarang walet gua, menjadikan tubuh pak Ganda tetap sehat, jarang sakit, kulit masih bagus dan wajah selalu berseri. Jika berjalan kaki melangkah cepat, saya sering ketinggalan langkah di belakangnya. Sehari-hari sibuk ngurus tokonya Varia Elektronik yang cukup terkenal di kota sejuk ini. Tidak jauh dari tokonya, Pak Ganda memiliki 2 buah gudang elektronik. Satu gudang yang di jl Pejagalan, di lantai 2-3 dan 4 difungsikan untuk budidaya walet. Bagian bawah untuk menyimpan stok kulkas, TV dan barang elektronik lainnya. Gudang tersebut berukuran 12 m X 20 m. Saya diminta menangani gedung walet kosong milik pak Ganda sekitar 4 tahun yang lalu. Suatu sore di hotel Salabintana~Sukabumi, dia menceritakan nasib gedung waletnya yang sejak dibangun hingga 2 tahun tetap kosong. Padahal suhu dan kelembapannya oke. Cahaya juga sudah bagus, ada ruang yang terang, ruang agak terang, ruang agak gelap, dan ruang gelap. Cd suara walet juga telah terpasang. Apanya yang kurang tepat? Segala saran teman dan konsultan walet sebelumnya sudah dia turuti. Bahkan secara rutin Pak Ganda menyemprot dinding dan lantai dengan cairan perangsang walet. “ Jika di total untuk membeli cairan perangsang tersebut, saya sudah menghabiskan uang sekitar Rp 90 juta rupiah” kata Pak Ganda geleng-geleng. Pak Ganda telah menggunakan ratusan liter cairan perangsang. Yang datang bukan burung walet tapi burung gereja dan kelelawar, lanjut Ganda sedih mengenang kebodohannya. Sudah merogoh kocek puluhan juta, hasilnya tetap nol besar. Gedungnya tetap kosong. Untung kantongnya gak bolong. Semenjak saya tangani hingga saat ini gedung walet pak Ganda telah berisi ribuan sarang walet. Pak Ganda tak lagi mengkonsumsi sarang walet gua, tapi sarang walet gedung, milik sendiri. Teman saya Pak Sriyono, yang gedung waletnya di Pasir Putih~Jambi, juga mengalami nasib sama. Dia pusing karena populasi waletnya stagnan. Hanya 25 sarang selama 2 tahun ini. Populasi walet tak beranjak naik meski berbagai cara sudah dilakukan. Terakhir Pak Yono membaca iklan di internet. Pria muda inipun tergiur iklan. Iklan memang kadang membantu, tapi kadang juga membodohi. Beliau pesan 20 liter cairan perangsang. Lalu, semua dinding disemprot cairan tersebut. Baunya…. uuh luar biasa…Pak Yono lupa pakai masker. Jadi, kaosnya dipakai untuk menutup hidung. Setelah disemprot semua, Pria yang selalu turun tangan sendiri ini harus menutup pintu dan baru boleh masuk 3 bulan kemudian. “Pasti setelah 3 bulan setelah penyemprotan, anda akan terkejut melihat hasilnya. Ratusan walet akan membuat sarang di gedung anda. Jika cairan perangsang ini tidak terbukti, uang anda saya kembalikan. Saya ganti 3 kali lipat !” Kata Pak Yono menirukan rayuan si penjual cairan perangsang. Menunggu waktu 3 bulan, tangan Pak Yono gatel ingin membuka pintu gedung. Tapi ia harus bersabar, sesuai petunjuk si penjual itu. Hari H pun tiba. Pak Yono sudah persiapan; masker, senter terang, hand counter untuk menghitung sarang, seperti yang dipakai pramugari saat mengitung penumpang. Pak Yono sudah membayangkan, akan muncul sarang baru dalam jumlah berlipat. Dengan hati dag-dig-dug, Pria kelahiran Yogyakarta ini masuk gedung jam 09.00 pagi. Langkah Pak Yono pelan mengendap-endap, seperti kucing mendekati mangsa, takut ganggu walet. Beliau langsung naik ke lantai 2 tempat banyak sarang. Tangan kanan menyalakan senter mengarah ke papan sirip. Tangan kiri memegang alat penghitung. Mulut komat kamit berdo’a. Pak Yono terkejut. Bukan terkejut bangga, tapi terkejut kecewa. Kecewa berat. Harapannya kembali pupus. Waktu 3 bulan yang ditunggu-tunggu ternyata bohong belaka. Saya pernah diundang member saya di Pringsewu~Lampung. Dia menggunakan cairan perangsang dengan cara dicampur di air pada mesin kabut. Ini juga atas advis si penjualnya. Tujuannya walet yang masuk gedung, bulu-bulunya akan basah terkena cairan perangsang tersebut. Nah, bulu walet ini akan menebarkan bau saat berkumpul dengan koloni walet lain. Katanya, bau cairan itu sangat disukai walet. Sehingga walet yang lain pada ngikut ke gedung tersebut. Member saya ini sudah memakai cairan perangsang tersebut selama 1 tahun. Hasilnya, burung waletnya bukan bertambah, tapi malah kabur ke gedung lain. Suatu hari, Ibu Ratna, pemilik Toko Sekarjaya Jl. Sukarno Hatta Balikpapan Kalimantan Timur, meminta kesediaan saya sebagai konsultan 2 gedung waletnya. Gedung yang satu terletak di atas gudang tokonya, dan gedung walet yang satu lagi, dibangun di Pasar Baru, tidak jauh dari Hotel Bahtera. Ibu Ratna sudah menyiapkan 20 karung kotoran walet. Sebagian sudah ditebar di lantai. Saat saya datang, saya minta kotoran walet yang sudah terlanjur ditebar di lantai itu harus dibersihkan kembali. Ibu Ratna terkejut. Tapi apa boleh buat. Harus menurut apa kata konsultan. Maka, 20 karung kotoran walet yang sudah terlanjur di “impor” dari Jawa Timur itu, tidak jadi digunakan untuk gedung walet dan akhirnya dipakai untuk pupuk tanaman. Kasus gedung kosong atau kasus populasi lambat, solusinya bukan dengan menyemprotkan cairan perangsang atau ada yang menyebut parfum walet. Sebab sumber masalahnya bukan di situ. Tetapi sumber errornya mungkin karena kesalahan di tata suara, atau pengaturan suhu & kelembapan, atau kurang tepat tata ruangnya. Apa yang mengundang walet datang dan menempel di twiter atau papan sirip? Itu karena CD panggil yang bagus. Apa yang mendorong walet cepat menginap? Itu karena tata ruangnya yang tepat. Apa yang merangsang walet cepat buat sarang? Itu karena suhu dan kelembapan ruang sesuai habitat waletnya. Gitu… Saya memang tidak pernah pakai cairan perangsang atau kotoran walet untuk memancing walet masuk gedung. Karena cara tersebut terbukti tidak ada relevansinya. Kapan walet belajar mencium bau perangsang? Benarkah walet suka bau kotorannya sendiri? Jika walet suka, kenapa kotorannya di buang ke lantai, bukan disimpan di sarangnya? Selama ini saya memanggil walet cukup dengan suara, dengan pengaturan tata ruang dan atur iklim di dalam gedung sesuai habitat walet. Meskipun tanpa menggunakan cairan perangsang dan kotoran walet, buktinya, sekitar 30 gedung walet di Balikpapan yang saya tangani, semuanya berhasil sangat sukses. Belum terhitung di Samarinda, Bontang dan Panajam serta puluhan gedung walet lain di seluruh Indonesia. Hari Jum’at tgl 9 oktober ini saya diundang lagi ke Balikpapan. Saya diminta atur tata suara, tata ruang dan tata iklim mikro. Padahal pemiliknya sudah mahir mengundang walet, kok masih ngundang saya juga? Pemiliknya adalah teman lama, Pak Hadi, pemilik Milan Variasi, Jl A Yani Balikpapan, yang juga kontraktor gedung walet di Kalimantan Timur. Kata Pak Hadi, gedung walet memang tidak boleh pakai cairan perangsang yang dijual umum itu, tapi di dalam gedung harus ada bau cairan perangsang yaitu bau keringatnya Pak Arief. Uh.. ada ada aja… |
| < Prev | Next > |
|---|
| Home |
| Profil Arief Budiman |
| Buku Walet |
| Suara Walet |
| Pemesanan |
| Kasus |
| Member |
| Gallery |