|
Sriyono, penjaga sebuah gedung walet di pinggiran kota Jambi, miscall
ke HP saya sekitar jam 02 malam. Tengah malam itu tentu saya sudah
tidur lelap. Kebetulan HP masih hidup, tapi saya silent. Pagi harinya
saya telpon Sriyono, konfirmasi ada info penting apa sehingga tengah
malam menghubungi saya. Yono, pria paruh baya ini, penjaga gedung
walet yang saya kelola. Ia bercerita kalau tengah malam itu, banyak
burung walet yang berputar-putar di sekitar lampu terang pada
billboard iklan depan gedung walet yang ia jaga. Walet berkerumun
beterbangan 200 an ekor lebih. Semula Yono tak hiraukan. Ia anggap
kelelawar mencari makan malam hari. Penjaga malam khusus gedung walet
itu, terus asyik menyedot rokok kereteknya, sambil konsentrasi pada
kartu gaple di tangannya. Untuk mengusir kantuk, Yono dan beberapa
temannya sering buka tikar main gaple-tanpa duit. Yono baru bangkit
setelah Karsidi, tukang becak yang biasa mangkal di pertigaan itu
teriak-teriak. “Yon ! walet mu lapar, malam-malam cari makan ….lihat
tuh.. banyak nian beterbangan..”
Apa penyebab walet keluar malam hari? Ada beberapa kemungkinan. Yang
jelas, bukan walet lapar cari makan malam. Salah satunya yaitu walet
penghuni gua melakukan ‘migrasi’ ke kota. Penjelasannya sbb:. Karena
teknis panen yang serampangan, sebagian walet akhirnya tidak betah
tinggal di dalam gua. Perlu saya sampaikan pengalaman saya melihat
teknis panen sarang walet gua, yakni, optimalisasi (lebih tepatnya
maksimalisasi) hasil panen menjadi tujuan utama. Artinya, panen
dilakukan siang hingga malam hari. Dengan lampu yang terang, dengan
tiang-tiang bambu-bambu yang malang melintang untuk memudahkan
pengambilan sarang. Panen dilakukan tak kenal ampun, baik sarang
kosong, sarang ada telur, maupun sarang ada piyiknya, disikat habis !
Pekerja panen hanya memikirkan komisi hasil panen tiap kilogramnya.
Bos-nya hanya memikirkan keuntungan yang akan masuk kantong besarnya .
Padahal dalam peraturan Pemda setempat. pada gua-gua walet yang
dikelola pihak ke dua, bahwa pemanenan sarang walet harus memperhatikan
azas kelestarian populasi walet.. Memang tidak semua pengelola gua
walet hanya berpikir jangka pendek. Sebagian pengelola gua walet juga
ada yang memikirkan keuntungan jangka panjang. sehingga saat jadwal
panen tiba, mereka mengatur harus dilakukan secara hati-hati.
Pada saat panen dilakukan, sebagian walet bermigrasi - lari kabur
ke kota. Mau tidur di mana walet-walet itu? Tentu walet pelarian ini
belum punya rumah. Bisa tidur di ‘teras’ toko, di bawah jembatan, atau
ikut masuk numpang tidur di gedung walet yang ada. Sebagian walet
memutuskan untuk tidak tidur dan beterbangan mendekat cahaya lampu
yang terang agar aman dari predator burung malam. Walet yang dilihat
Yono dkk itu, sedang mencari aman dengan bergerombol beterbangan di
sekitar lampu.
Bicara soal hubungan antara cahaya/lampu dengan walet, saya ada
pengalaman. Saat itu saya lagi ngobrol dengan beberapa member di lobby
hotel yang terletak di jalan Jendral Sudirman Balikpapan. Saat itu jam
sudah menunjukkan angka 20.00 waktu setempat. Suara walet mencicit
mengusik perhatian saya. Saya keluar hotel. Rombongan walet terbang
pulang malam dari arah Penajam ke sentra walet “pasar baru” Balikpapan.
Yang membuat saya terkesima, rombongan walet melintas di atas jalan
raya—sepanjang jalan raya yang bercahaya terang itu menjadi jalur
pulang walet di malam hari Suaranya riuh. Walet memanfaatkan cahaya
terang lampu jalanan untuk keamanan pulang dari kemungkinan disergap
predator burung malam. Lampu itu juga menjadi pemandu arah pulang,
sehingga walet tidak salah gedung.
|