|
Saya lahir di saat air melimpah, bulan Desember
1963 di sebuah kota kecil dengan areal persawahan yang luas dan
produktif serta perbukitan subur yang terletak di jalur pantura di
pertengahan antara Pekalongan-Semarang. Jalur pendidikan saya jalani
biasa saja, sampai tamat sarjana psikologi di Universitas Muhammadiyah
Surakarta th 1991, dengan indek prestasi yang biasa juga.
Mungkin karena saya jarang masuk kuliah, atau dosennya yang tak pandai
mengajar, sehingga nilai saya rata-rata C. Hanya skripsi dan KKN yang
dapat nilai A plus. Saat kuliah saya sudah bekerja sebagai jurnalis
pada sebuah surat kabar harian di Semarang, sampai suatu hari teman
saya Boedi Utomo datang ke kantor menyerahkan Toga, karena saya lupa
ikut wisuda.
Di tempat saya, Weleri, termasuk salah satu sentra walet di jalur
pantura. Banyak kerabat yang memiliki gedung walet. Saya sering ikut
membantu, bersih kotoran, bersih kolam, bersih sarang dll. Ilmunya,
saya save tanpa sengaja tersimpan di memori saya.
|
| Awalnya trial & error |
|
Tahun
1997 saya melakukan serangkaian penelitian, trial and error, tanpa
guru, referensi terbatas, tanpa becking dana, modalnya hanya satu :
semangat maju yang menggebu. Hasil penelitian saya inventarisir, yang
bermutu saya kembangkan, ang kurang bermutu saya delete. Penemuan
burung seriti kembang adalah salah satu hasil karya orisinil yang cukup
menguras energi. Karena jasa seriti kembang inilah, akhirnya gedung
walet saya yang semula kosong, telah dihuni seriti dan walet walet.
Tahun 1998 saya aktif memberi seminar, kerja sama dengan Radar
Lampung, dan Malang Pos. Seminar juga diselenggarakan di Jakarta,
Cipanas, Surabaya dan Bali. Pertengahan tahun 1999, saya mulai meneliti
suara-suara walet, waktu pagi, siang, sore dan petang saat walet
pulang. Saya merekam suara walet baik out door maupun in door. Dalam
gedung, saya rekam suara koloni burung berliur mahal ini sepanjang
malam, dengan alat yang sangat sederhana : handycam ! Alatnya murah,
tapi ilmu yang saya peroleh mahal harganya.
Ternyata walet mengeluarkan suara yang beraneka ragam. Ada suara senang
ada suara sedih. Ada suara riang ada suara stress. Saat gedung walet
kebobolan pencuri, sarang dipanen paksa malam hari, banyak telur jatuh,
banyak anak tergeletak di lantai mati pelan-pelan. Di malam petaka itu,
suasana dalam pasti gedung kacau balau. Walet terbang
berhamburan-bertabrakan dalam suasana yang sangat panik. Malam itu juga
untuk menyelamatkan diri, rombongan walet eksodus keluar gedung. Esok
paginya koloni walet berputar-putar di sekitar gedung dengan gerak
terbang yang terlihat stress sambil mengeluarkan suara pelan mencicit
yang menyayat. Suara walet yang berkabung.
|
| Beramal : CD gratis |
|
Salah
satu hasil gemilang, saya persembahkan secara cuma-cuma ke public walet
berupa CD cek lokasi. Rekaman di CD tersebut adalah ‘suara khusus’ di
saat ratusan koloni walet hendak pulang menjelang petang. Maka di
pertengahan rekaman itu terdengar sayup-sayup dari kejauhan adzan
magrib berkumandang dari menara masjid. Sahabat saya Denny Halim di
Sampit berkomentar… “ bujur ja lah CD cek lokasi ini luar biasa
dahsyatnya, karena ada suara doa’ dan mantra pak Arief….
Dari hasil penelitian saya, akhirnya lambat laun saya memahami bahasa
vocal dan bahasa gerak- terbang burung kecil ini. Walet mengeluarkan
bunyi suara sedikitnya 99 suara. Walet juga cepat merekam-menghapal
suara dari luar, seperti halnya burung beo atau jalak. Maka coba
perhatikan, walet yang sedang berputar-putar gedung akan menirukan
suara CD yang sedang diputar. Itu tanda walet mampu meniru suara luar.
Itu juga tanda walet suka pada bunyi suara CD itu. Walet akan
mendengarkan serta menyeleksi ‘aransemen lagu-irama‘ dari suara rekaman
CD yang diputar.Jika aransemennya cocok, walet akan merespon dengan
berkerumun di depan pintu lalu keluar-masuk gedung, dan akhirnya
menginap.
|
| Kekuatan CD : Aransemen Yes ! |
|
Kenapa
CD suara walet yang saya produksi sangat direspon luar biasa oleh
walet? Ada kekuatan di CD saya. Yakni walet menyukai lagu, muatan
liriknya dan aransemen yang saya ciptakkan. Banyak CD walet yang
diciptakan asal-asalan dan dijual bebas di pasaran. Jika lagu walet tak
bagus, walet tak mau datang, menolehpun enggan. Atau walet hanya datang
sebentar: hanya 1 minggu, setelah itu bubar menjauh.
Maka, banyak gedung walet tetap kosong meskipun sudah lama dibunyikan
suara rekaman walet. Di sisi lain tidak sedikit gedung walet ukuran
kecil 4 m X 5 m, ada yang cuma 2 lantai ada yang 3 lantai, menjadi
sukses setelah menggunakan CD walet produksi BAN. Gedung walet milik
Hery Kusuma, di kompleks Balikpapan Permai, cuma 2 lantai ukuran 4 m X
8 m. Ternyata…..kini ratusan sarang walet di dalamnya. Gedung H.
Bahransyah di Pulau Laut-Banjarmasin, ukuran 4 m X 5 m, 3 lantai. Meski
berukuran mini, namun berisi ratusan sarang walet. Ibarat Losmen tapi
fasilitasnya tidak kalah dengan hotel berbintang. Tergantung cara
me-menej-nya. Saya mengatur tata suara dan tata ruangan seefektif
mungkin dengan konsep minimalis.
|
| Seminar : Kasus tak tuntas |
|
Sejak
tahun 2002 saya sudah tidak aktif lagi memberi seminar. Menurut saya,
seminar memang bermanfaat sebagai media untuk mengenalkan informasi
mengenai perwaletan meskipun hanya di permukaanya saja. Namun untuk
menyelesaikan kasus-kasus yang kompleks pada sebuah gedung walet,
memang harus dilakukan dengan cara melihat langsung di lokasi. Kalau
toh ada session tanya jawab tentang kasus-kasus, tetap saja tak
menyelesaikan masalah.
Kadang selain mencari info baru serta kiat-kiat mutahir, sebagian
peserta, mengikuti seminar dengan membawa kasus yang dialami di
gedungnya dan mencari problem solving.
Padahal kasus di gedung walet, penyebabnya bukan 1 item saja, melainkan
bisa 4 sd 10 item. Mungkinkah kasus itu dijawab sepotong-sepotong ?
Padahal antara 1 item dengan item lain pasti selalu berkaitan?
konsultasi kasus di forum seminar pasti dibatasi waktu. Maka
menjawabnya-pun secara terburu-buru. Sering jabawannya hanya sekilas
dan ringkas. Satu kasus belum dijawab tuntas, peserta lain bertanya
tentang kasus yang lain. Capek deh…. Konsultasi untuk kasus-kasus yang
berat memang kurang efektif jika dilakukan di ruang seminar. Saya
sering menerima pesan di HP saya, isinya konsultasi.Konsultasi kok via
SMS? Kadang juga melalu telephone. Mohon maaf jika jawaban
yang saya berikan kurang memuaskan, karena pertanyaannya juga tidak
jelas. Sebab, penanya sendiri tidak tahu inti kasusnya, tidak tahu
sumber penyakitnya.
Kasusnya tetap menggantung, tetap mengambang.Akhirnya, setelah saya
pikir-pikir, saya harus turun untuk menyelesaikan kasus-kasus
perwaletan dengan memberi konsultasi langsung di lokasi. Saya melayani
hingga pelosok daerah di hampir 80 % pulau Kalimantan. Saya harus mau
digeledah oleh TNI saat memasuki wilayah Singkil Aceh Darrussalam dalam
perjalanan darat dari Medan melalui Brastagi. Saya juga harus rela
menunggu hingga hampir 1 jam, saat paspor saya diperiksa oleh TNT
(Tentara Nasional Thailand… asal singkat saja he.. he.. he ) dalam perjalanan antara
Ranong ke sentra walet Chumphon. Perjalanan dilanjutkan ke Surattani.
Saya juga menjadi kapok jika masuk ke Johor lewat Changi airport,
karena dua kali saya ditahan imigrasi berjam-jam disebabkan soal nama
saya yang persis nama dosen UKSW DR. Arief Budiman. Di Komputer
imigrasi, begitu di klik nama arief budiman muncul dengan huruf merah !
Saya jadi tahu ternyata DR. Arief Budiman yang dulu diblack list oleh
Soeharto hingga sekarang ternyata masih berlaku di Singapura. Enggak
ikut demo masih kena getahnya juga.
|
| Prestasi berhadiah umroh |
|
Pada
perjalanan lain di awal 2005, tepatnya bulan Maret, saya sekeluarga
diajak ibadah umroh oleh keluarga H. Abdul Gafur, seorang pemain walet
yang sangat sukses di Palangkaraya. Perjalanan ibadah ini sebagai
hadiah prestasi kerja saya. Seusai melakukan tawwaf, saya istirahat
duduk di lantai marmer yang dingin. Saya tercengang melihat ada koloni
walet gigas yang bertengger di teras sekitar Masjidil Haram. Lain hari,
saat mengambil miqot di masjid Ji’ronah, yakni satu tempat di pinggiran
kota Makkah, saya juga melihat koloni seriti kembang beterbangan di
sekitarnya. Kedua jenis burung itu memang bisa hidup dan berbiak di
suhu yang tinggi.
Ini memang bukan cerita perjalanan kerja, namun perjalanan ibadah. Toh
tetap dapat ilmu juga. “Dasar orang walet, sambil pakai ihrom sempat
juga lihat burung.,.” kata istri saya berseloroh. Bagi yang belum
berlatih, memakai kain ihrom, pakai sendiri memang sulit, agak ribet,
takut kedodoran, maka saya harus minta bantuan istri tercinta.
|
| 2009 : sukses walet kita |
|
Sudah
6 tahun ini saya keliling ke berbagai pelosok Nusantara. Sempat
nyebrang juga ke Davao-Philipina, sekitar 1 jam dengan sriwijaya air
dari Manado. Manado-Davao hampir sama, banyak burung seritinya. Saya
akui banyak manfaat dengan kesediaan saya keliling memberi konsultasi.
Saya memang memberi ilmu tapi sekaligus justru dapat banyak ilmu baru.
Saya masih ingat kata-kata di buku China: “Siapa yang suka bantu orang
di bumi, pasti akan selalu dibantu oleh orang yang di langit”. Di
bagian lain saya juga sempat mencatat : “ Siapa yang suka memberi ilmu
pada orang di muka bumi pasti akan selalu diberi ilmu oleh orang yang
di langit.” Kata-kata itu memang benar. Saya sudah sering membuktikan.
Alhamdulillah. Banyak pekerjaan saya yang sukses karena saya dibantu
banyak teman-teman di bumi dan selalu dimudahkan pekerjaan saya oleh
Allah SWT yang di langit. Hampir 99 % pekerjaan saya di bidang walet
khususnya, mencapai kesuksesan yang memuaskan. Kita harus optimis,
tahun 2009 ini menjadi tahun sukses walet kita. Bagi mereka yang sudah
sukses, bertambah semakin jaya ! Amin.
|
|